Selasa, 23 Desember 2014

Tugas sekolah membuat cerpen : LOMU



Lomu
Anano
 

“Pipiot!” teriak seorang anak kecil yang bagiku tak asing. Ya itu teriakan Lomu.

“Apa Mumu? Ayo cepat, nanti kita dimarah pak RT lagi. Aku tak mau jika hal Itu terulang kembali.” Jawab ku yang sedang bersama Lomu.

“Iya aku tau. Tapi kau kan tahu, kita sudah berjalan lebih dari 2 jam. Tidak kah kau melihat diriku ini yang malang?” melas Lomu.



Tiba-tiba sebutir air mata jatuh di pipi kananku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat oleh Lomu. Padalah ini sudah lebih dari 8 tahun. Mengingat lomu. Itu sungguh menyakitkan bagiku. Mungkin tak hanya aku saja, tapi seluruh warga desa.



Aku ingin melampiaskan kesedihanku. Tapi dengan siapa? Lomu? Itu tidak mungkin. Teman masa kecil. Tidak, dia lebih dari sekedar teman. Sahabat, mungkin tidak. Ya, dia sudah ku anggap kakak ku sendiri. Entah mengapa, aku selalu nyaman jika bersamanya. Dia layaknya kakak ku yang sudah lama meninggalkan ku. Untuk selamanya.



***



“Hey! Jangan melamun. Tak bagus jika jagoan kampung ini seperti mu itu, melamun. Nanti kau kesambet lagi” canda Lomu.

“Kasih oh aja deh. Lagian sapa lagi yang melamun? Aku? Matamu rabun kali, mana ada di dalam kamus Vio melamun itu.” Balas ku.

“Hey pipiot. Jangan bilang kamu ini sedang memikirkan kak Danu?” tanya Lomu.

“Siapa? Aku? Tidak lah. Siapa juga yang sedang memikirkan dia itu. Orang yang menyebalkan.” Bohong diriku.



Tak terasa air mataku mulai berjatuhan. Itu sama dengan keadan pemandangan diluar yang begitu kelabu. Tiba-tiba Lomu memegang pundakku. Entah mengapa, aku merasa seperti ada energi mengalir di dalam tubuhku yang mulai kaku ini.



“Piot. Aku tahu apa yang kau rasakan. Tolong, jangan pernah sekali lagi kau menutupi rasa sedihmu pada Kak Danu. Bagaiman sehabatmu ini bisa membantumu jika kau tak cerita?”

Aku hanya menangis. Lebih deras dari pada hujan yang turun.

“Kau itu punya indra ke enam ya mu?” tanyaku.

“Hah?”

“Iya, indra ke enam atau semacamnya?”

“Piot... Piot...  walaupun kita ini di kampung. Jangan pernah berpikiran seperti itu. Hal itulah alasan mengapa orang desa selalu dianggap lebih rendah dari orang kota. Karena kita terlalu kolot.”

“Lantas, bagaiman kau bisa tahu kalau aku memikirkan Kak Danu?”

“Itu mudah saja. Sudah berapa lama kita bersama? Mungkin dari kita lahir.” Tawa Lomu.

Tiba-tiba terdengar suara.

“Hey kalian! Dasar dua brandalan kecil yang susahnya minta ampun. Kalian sedang dicari oleh ibu kalian tahu. Saya yang jadi sasarannya. Dasar kalian ini duo onar kampung.” Marah pak RT.

“Maaf Pak RT, kami tak punya jam. Jadi kami lupa waktu.” Melas ku ada pak  RT.

“Kalian ini. Tak Cuma menyusahkan, tapi juga banyak alasan. Ayo cepat pulang. Kerjaan kalian hanya nongkrong di saung saja. Ini sudah hampir mahgrib. Kalau kalian tidak bisa kembali bagaimana?”

“Makanya lain kali kalau mendirikan saung itu jangan di dekat hutan. Bisa-bisa kalian masuk ke dalam hutan dan tak kembali.” Sambung pak RT lagi.



Langit dari hari itu mulai merubah warnya menjadi gelap. Tak seperti biasanya. Kali ini serasa ada sesuatu yang aneh. Warna langit itu mistis.



Keesokan harinya, Lomu sudah ada di depan rumahku. Dia terlihat lebih bersemangat dari ku yang baru saja bangun dari tidur ku.

“Hari in kita kemana Mu?”

“Kita ada jadwal main. Tapi kali ini kita akan mencoba ke kampung sebelah saja. Aku bosan jika hanya di saung saja.”

“Baik lah. Aku bilang dulu ka ibu. Awas kalau kau pergi duluan.”

“Siap juragan!”



Aku, Lomu, dan ditambah anak kampungku yang lain siap menuju ke kampung sebelah. Kami menyiapkan perbekalan terlebih dulu. Mencari bekal di dalam hutan. Itu seperti tentara-tentara Indonesia yang gagah berani.

“Oke. Apakah bekal kita sudah mencukupi?” Tanya Edo.

“Em... kukira cukup. Bukankah di kampung sebelah juga ada hutan ya? Kita bisa ambil dari sana juga kan?” usul Linda.

“Hey! Tapi apakah aman jika mengambil dari hutan kampung sebelah?” tanya Usman.

“Kenapa tidak? Kita meminta saja dengan baik-baik.” Jawab Lomu.

“Ya sudah. Mari kita berangkat. Perjalanan kita tidaklah dekat.ini akan jauh. Jangan berlama-lama disini.” Kataku.

“Oke kawan, mari berangkat!” seru Linda.



Akhirnya, kami sampai juga di kampung sebelah. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang karena kami hanya bermodalkan sepedah butut ini. Bekal yang kami bawa akhirnya berguna juga. Untuk mengganjal perut-perut desa kami ini. Tak sengaja, saat kami sedang makan, lewatlah Ijung. Anak kampung sebelah. Lalu kami melanjutkan bermain bersama Ijung dan kawan-kawannya.



Hari sudah sore. Kali ini kami benar-benar sudah lupa  waktu. Seharusnya kami sudah pulang dari jam 3. Tapi kita molor satu jam. Kami bergegas, berharap langit masih mau memberikan cahayanya kepada kita. Mengingat medan yang sulit untuk melaju kencang harusnya kami tadi ingat waktu.



Benar saja. Kami sampai di kampung jam setengah enam. Dan didepan gardu hansip pak RT sudah menunggu kami layaknya hewan piaraan yang belum kembali ke kandangnya. Raut wajahnya bercampur antara marah , khawatir dan takut. Itu membuat kami merasa bersalah.

“Maaf Pak, kali ini kami tidak alasan seperti waktu kemarin. Kami benar-benar lupa” kata Lomu.

“Yasudah. Yang terpenting kalian tidak melebihi waktu mahgrib.”

“Iya Pak RT. Sekali lagi maaf” kata Edo bersamaan dengan Usman.



Dalam perjalanan menuju rumah. Entah mengapa suasana senja begitu memanjakan kami yang lelah akan bermain. Terlihat raut-raut wajah bahagian di wajah anak kampung Sendayu ini.



“Oi Pi! Kapan-kapan kita bertualang lagi oke?” pinta Linda.

“Tentu saja Pipiot mau Nda. Dia kan pencinta alam sejati.” tandas Lomu.

Memang Lomu sering menjadi mulut keduaku. Dia seperi tau apa yang aku fikirkan, apa yang ingin aku katakan.



Hari Senin ini terasa lebih mendung dari hari senin biasanya. Biasanya langit begitu cerah mendukung semua aktivtas warga kampung. Hanya aku yang merasakan hal itu. Atau memang warga kampung tak memperdulikan hal ini. Fikiran ku tak dapat berhenti untuk terus berfikir. ‘apa sebenarnya yang sedang terjadi. Atau, tanda firasat apa ini. Kenapa sejak semalam fikiran ia tak tenang.’ Semua pertanyaan itu muncul secara beruntut difikiran ku. Hatinya berdebar tak beraturan seperti dentuman besi yang ditimpa oleh pandai besi. Keras.



“Bu, entah mengapa perasaan ku tak enak ya Bu?”

“Memang kau memikirkan siapa?”

“Entah, tapi aku rasa akan terjadi sesuatu. Ya! Sesuatu terhadap...” perkataan ku terputus.

“Lomu. Lomu bu.”

“Memang kenapa dengan Lomu?”

“Ah Ibu. Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya pada Ibu. Tapi perasaan ini seperti pada saat... saat 3 tahun lalu. Saat kak Danu.”

Ibu hanya terdiam. Butiran air mulai turun tak beriringan dari matanya yang mulai tua. Mulai layu itu. Teringat dengan anak yang dia sayangi, bagai pukulan keras pada besi yang telah ringkih setelah 3 tahun sepeninggal anaknya.



“Bu, Ibu menangis. Maafkan aku jika itu mengingatkan itu pada kak Danu. Aku tak...”

“Tidak Vio. Ibu hanya kelilipan debu. Kan kau tahu. Di kampung sedang musim kemarau.” Bohong ibu. Tapi aku tahu, kalau ibu sedang berbohong. Dia sedang memikirkan orang yang mungkin paling menyayangi keluarga.



Kejadiannya 3 tahun lalu. Itu terjadi begitu cepat. Seperti sayatan silet yang tajam.



Kak Danu sedang mencari ikan. Sebenarnya Kak Danu tidak sendiri. Dia bersama kak Ranu, dan Kak Dio. Tapi entah apa yang ada difikiran mereka bertiga. Seharusnya mereka tahu. Kalau pergi memancing di saat hujan itu berbahaya. Sama saja mengundang kematian. Ah, sungguh bodoh. Kak terus membantah ibu. Ia kekeh untuk tetap memancing. Dengan alasan itu untuk lauk makan malam nanti. Ia pergi kesungai yang masih liar. Sungai yang benar-benar masih belum terjamah. Kak Danu, kak Ramu, dan kak Dio memancing agak ke pinggir. Mereka tidak memperhitungkan dahulu apa-apa yang mungkin terjadi jika mereka berdiri di atas rumput yang licin karena hujan.



“Hoi, aku pindah kesebelah sini ya. Di sana ikannya sedikit. Aku sulit untuk menangkapnya. Mungkin disini banyak.” Seru kak Danu.

“Oh. Terserah kau saja.” Jawab kak Dio.

“Heh. Kau juga harus hati-hati disana berbahaya. Bisa-bisa kau terjatuh ke sungai yang liar ini seperti kambingku kemarin lusa.” Canda kak Ramu.

“Jadi kau menyamakan aku dengan kambing. Hah?” seru kak Danu.

“Haha, aku hanya bercanda Nu. Jangan kau ambil hati.” Seru kak Ramu.

“Sudahlah. Aku mau memancing untuk keluargaku makan malam nanti” elak kak Danu.



Hujan bertambah lebat. Dan itu membuat permukaan rumput menjadi lebih licin dari awal mereka menginjakkan kaki mereka di sungai liar ini. Di saat itu juga Kak Danu merasa pancingnya bergerak sangat kencang. Ia berharap itu ikan yang besar untuk keluarganya. Ia berusaha untuk menaklukkan ikan itu. Tapi ini sudah takdir. Permukaan rumput yang licin. Membuatnya terjatuh ke dalam sungai yang berarus deras itu. Seketika teman kak Danu panik. Meraka tidak bisa melakukan apa-apa selain meminta tolong. Mereka tau. Hal yang mustahil untuk menyelamatkan Kak Danu dari amukan arus sungai itu. Tapi mereka juga tak mau kehilangan sahabat mereka karena kecerobohan mereka. Tanpa pikir panjang Kak Dio langsung mengejar tubuh kak Danu yang hanyut begitu cepat di sungai itu. Kak Ramu juga tak mau kalah, bahkan dia nekat berenang menyelamatkan kak Danu. Tapi semua orang tau. Percuma melawan arus sungain di saat hujan deras begini. Sama saja mencari mati. Tapi hal itu tak dihiraukan kak Ramu. Melihat kedua temannya tejebak di arus yang deras, kak Dio hanya bisa mencoba menggapai salah dari mereka, tapi itu tak bisa. Tanah dan rumput basah ini alasannya. Mereka seakan mengeluarkan cairan licin, sehingga siapa yang berani menginjak mereka, pasti akan terjatuh.



 Kak Dio hanya bisa memanggili nama kedua temannya itu. Berharap ada yang mendengar suaranya dan muncul ke permukaan. Namun itu hanya sia-sia belaka. Kak Dio putus asa, berharap, Tuhan akan menurunkan malaikan penolong bagi mereka.



 Mendengar ada yang berteriak dari arah sungai, pak RT menghampiri. Baru sampai pada pembatas antara hutan, mata pak RT terbelalak. Sepasang mata itu menangkap dua tubuh, satu di sungai dan satu berteriak di darat. Ia bergegas menghampiru keduannya. Secepat mungkin ia menyabet ranting yang cukup besar ukurannya, yang masih kokoh. Di hempaskannya ujung ranting itu ke air, mengarah ke tubuh kak Ramu. Kak Ramu berusaha menggapainya. Dan akhirnnya dapat. Kak Ramu naik ke permukaan dengan dibantu kak Dio.



“Danu! Mana Danu? Dio ma...mana Danu? Dia masih di air? Gila kamu. Cepat... cepat selamatkan dia! Bisa mati dia! cepat” ucap kak Ramu terpotong-potong karena menstabilkan napasnya itu.

“Apa? Danu juga tenggelam?”

“I..i..iya Pak” Dio seketika teringat dan mulai panik.

“Cepat tolong. Bisa kehabisan napas dia.” Pak RT laju berlari ke arah air sungan bertuju.

“Itu dia Pak”

“Cepat! Nak Dio, tolong pegang tubuh Bapak. Bapak akan menarik tubuh Danu.”



***



Tampak tiga orang berada di bibir sungai sedang menggoncang-goncangkan sesosok tubuh. Yang sekiranya sudah kaku. Bahkan, bukan hanya kaku, tapi sudah membiru. Semua orang histeris. Berteriak tak jelas. Terlebih Ramu.



“Danu! Bangun.... bangun... ayo bangun. Ini semua salahku. Seharusnya merekan menolongmu duluan. Danu... ayo Danu. Kit pergi bersama kita juga harus pulang bersama.” Teriak kak Ramu.



Sedangkan kak Dio hanya bisa menangis membisu. Berusaha tegar. Tapi itu sia-sia. Air matanya telah bercampur dengan air hujan. Tangannya menggenggam tangan kak Danu yang dingin. Ia berusaha menyalurkan kehangatan tubuhnya. Berusaha itu dapat membuat mata kak Danu kembali terbuka.



Pak RT hanya bisa terdiam dalam derasnya hujan. Berusaha menebalkan dinding-dinding matanya. Berusaha berteriak pada hatinya untuk menerima. Menerima kejadian ini.



Hujan yang mulai mereda. Kembali menderaskan rintikannya itu. Seolah ikut berkabung atas kejadian di hari itu. Pak RT, kak Ramu dan kak Dio. Wajah mereka bersimbah air hujan yang bercampur air mata yang tak terbendung lagi. Nyawa kak Danu tak tertolong. Hal itu membuat semua warga kampung tersentak. Anak yang dikenal begitu menyanyangi keluarganya. Ternyata telah pergi dengan cara yang tak diduga.



Lamunanku buyar seketika ada suara yang sangat ku kenal. Dan aku tau itu siapa. Lomu. Sahabatku. Yang ku anggap kakak itu.

“Piot, mau main tidak?”

“Ah. Aku sedang tidak tertarik untuk bermain hari ini Mu. Kau saja yang bermain dengan anak-anak kampung.”

“Oh begitu. Ya sudah, aku pergi duu ya piot!”



Pukul 15.00.

Tubuh ini seperti telah dituntun untuk menuju saung di dekat hutan. Tempat pembatas antara kampung dan sungai yang dimana telah mengambil kakak kesayanganku.



Suasana mendung menyelimuti hari ini. Entah inikah firasat buruk yang mulai melanjutkan permainannya atau bukan. Mata ku mulai basah dengan bulir-bulir air mata. Mengingat kejadian 3 tahun lalu. Yang rasanya seperti yang aku rasakan sekarang ini.



Kaki ini seperti telah terperogam untuk masuk kedalam hutan yang lebat itu. Setelah masuk begitu dalam ke dalam. Aku baru tersadar. Aku bingung. Hanya pohon besar yang mengelilingiku. Langit pun hampir tak terlihat. Takut, sedih, dan menyesal. Bercampur di dalam hatiku. Aku hanya bisa menangis. Menangis sekencang yang aku bisa.



Penduduk kampung geger. Mereka mencari-cariku keseluruh kampung tapi tetap tak membuahkan hasil. Lomu yang merasa aneh dengan ketidak adaannya aku sehingga membuat seluruh kampung panik mulai memutar otak. Meneraka-reka dimana kira-kira aku berada. Ia hampir putus asa. Tapi, ia teringat akan saung yang berada di pinggir hutan. Ia segera kesana. Benar saja. Seperti yang ia duga. Aku tadi ada disana. Ia melihat sekeliling siapa tahu ada jejak yang dapat menuntunnya ke pada ku. Yap. Ia merasa keberuntungan menyertainya hari ini. Tapi itu tak benar. Ada bahaya yang mengancam Lomu.



Ia menemukan jejakku hingga didepan hutan. Ia sedikit ragu. Tapi, ia bertekat untuk menemukanku. Ia masuk kedalam hutan tanpa membawa barang apa pun. Ia masuk cukup dalam dari biasa yang ia lakukan dengan anak kampung. Ia memanggil-manggilku. Mendengar ada yang memangggilku. Air mata ini mulai mengering. Mendengar nama ku, membuatku seperti ada harapan lagi. Aku merespon panggilan Lomu padaku.



“Lomu. Lomu. Itu kau?”

“Piot! Piot! Ini aku. Ya ini aku Lomu!”

“Kamu dimana Lomu? Aku takut.”

“Kamu jangan pergi kemana-mana, biar aku yang kesana.”

“Iya. Cepat aku takut.”



Lomu menemukan ku, tapi dia mulai waspada karena hari mulai gelap.



Tiba-tiba, ada bunyi yang mengerikan dari balik semak-semak. Entah itu apa. Tapi yang pasti itu membuat aku takut. Lomu berusaha menenangkanku. Kami menyusuri hutan, entah sudah berapa lama. Kaki-kaki ini sudah tidak kuat untuk mencari jalan. Tapi tetap dipaksa untuk mencari-cari jalan mana yang akan membawa kami keluar dari hutan. Hutan yang gelap, hanya dipenuhi oleh suara-suara buas, yang sewaktu-waktu dapat muncul dihadapan. Mencari-cari langit-langit hutan yang terbuka. Tapi ini sukar untuk dicari. Berharap dapat menemukan untuk melihat petunjuk dari kak Danu disana yang memberikan jalan lewat langit hitam di atas. Tapi sia-sia.



Entah sudah berapa jam aku dan Lomu berjalan menyusuri hutan sialan ini. Hutan yang membuat aku dan lomu tersesat hingga selarut ini. Tapi untung saat Lomu masuk kehutan ia mempunyai ide untuk menandai setiap tempat yang ia lewati. Sedikit lega. Tapi entah mengapa aku sedikit tak tenang. Muka Lomu semakin pucat, setelah tadi di bawah pohon besar. Aku takut Lomu kenapa-napa. Karna Lomu sudah kuanggap kakak ku. Kakak yang melindungi ku setiap waktu.



Hari semakin larut hingga hawa dingin mulai menyerang. Di balik hutan. Para warga sudah mengumpul sambil membawa obor. Dan sebagian telah terjaga di hawa yang menusuk tulang ini.



“Hey! Itu mereka sudah keluar dari hutan! Ayo cepat susul mereka!” seru salah satu warga.

“Iya ayo. Akan ku bangunkan wrga yang lainnya” seru yang lain.



“Pak RT. Itu dia mereka. Mari kita susul.” Seru pak Fuad.

“Oh iya pak Fuad, kita harus bergegas menyusul mereka.” Jawap pak RT.



“Ibu.... aku takut Bu. Disana aku tersesat. Untung ada Lomu Bu. Tapi dia...”

Perkataan ku terputus. Tiba-tiba saja Lomu jatuh tersungkur ditanah. Badannya pucat. Tak seorangpun tau apa yang terjadi pada Lomu, begitu juga dengan ku. Semua warga mengerubungi Lomu. Ibunya meraung sejadi-jadinya, berharap tak terjadi apa-apa dengan anak satu-satunya itu. Aku hanya bisa meneteskan air mata yang seharusnya sudah mengering saat bertemu Lomu di hutan.



Pagi abu-abu. Mendung sungguh mengganggu. Matahari tak mau menampakkan cahayanya lebih banyak. Tapi itu tak seburuk apa yang sedang dialami oleh warga kampung ku. Bendera kuning terpampang di depan rumah Lomu. Di sana, di mana berkumpulnya warga desa ku. Mencoba mengikhlaskan kepergian sahabatku. Lomu.



‘dasar kalajengking sialan! Kenapa bukan aku saja? Yang tersesat kan aku! Dasar kau bodoh. Hewan bodoh. Kenapa harus kaki Lomu yang kau gigit? Kenapa?’ aku hanya bisa memaki diriku sendiri. Betapa beruntungnya aku, selamat dari maut. Tapi hal itulah yang aku benci. Keberuntunganku ini membuat sahabat baikku meninggal. Kenapa aku harus seberuntung ini? Kenapa? Kenapa juga keberuntunganku ini memuat nyawa temannku melayang? Aku benci ini! Tuhan... tidak cukupkah kakak ku? Kenapa harus Lomu juga.



Aku berusaha tegar. Tapi, tapi itu mustahil. Temanku, sahabatku, bukan kakak ku. Dia tebujur kaku. Disana. Ditikar pandan. Hanya bertemankan sebuah kain jarik dan penutup. Mukanya sudah tak seperti dulu. Tak ada tawa khas di bibirnya yang putih pucat itu.



Ya Tuhan! Kenapa dia? Kenapa? Aku saja! Harusnya aku, bukan dia. Itu salahku. Aku kehutan terlarang itu. Kak Danu. Tolong aku, beritahu Tuhan. Bukan Lomu, tapi aku. Tolong bilang Kak. Tolong. Setidaknya, jika aku yang mati. Aku bisa dengan mu kak. Aku ceroboh Kak. Dia sudah ku anggap kakak, Kak. Dia yang menghapus sedih ku. Dia yang menjahit luka ku saat kau pergi. Tapi aku ceroboh. Aku malah membuka jahitan itu. Dan.. dan Lomu yang merasakan akibatnya. Aku tak berani melihat ibunya kak. Mimik itu. Mengingatkan ketika ibu menangisi mu kak. Luka ku smakin besar kak. Semakin... semakin... dan kini sudah sanhat besar Kak.



Kini, mata ku sudah basah. Samar-samar kulihat bayangan Lomu tersenyum kepadaku. Seakan berkata. ‘Lupakan saja’. Bagaimana bisa? Walau sudah bertahun-tahun. Itu mustahil Lomu. Bayangan itu terus berkata. Dan kata yang berhasil kutangkap adalah. ‘Itu bukan salahmu. Ini takdir. Mungkin kau merasa itu tidak adil. Tapi Tuhan tahu. Apa yang terbaik bagi kita. Bagi manusia. Aku tidak keberatan hal itu terjadi kepadaku. Aku ikhlas. Kau tahu kenapa? Karena itu takdirku. Hal yang sudah direncanakan oleh Tuhan untukku.’

Degg... jantungku serasa ada yang mengerem. Kata-kata itu. Apakah itu dari Lomu? Sungguh dia ingin mengucapkan itu? Pada ku? Jantungku mulai memburu. Ya! Memburu. Bayangan Lomu menghilang. Aku tak mau. Berpisah untuk kedua kalinya denganmu Lomu. Aku mencoba menagkap bayangan itu. Kucari. Kucari ke segala penjuru.

“Mu.. Lomu.. dimana kau? Kenapa Lomu? Kenapa? Kau pergi lagi.” Aku mulai terisak. Muka ku merah. Entah itu karena marah, sedih, atau bersalah.

“Lomu... aku rindu kau.” Bibirku mulai mengatup.



Kulihat lagi bayangan Lomu. Tapi, siapa laki-laki itu. Dengan badan besarnya. Rasanya aku tak asing. Rambut itu. Mata itu. Bibir itu. Itu adalah milik orang yang paling kurindukan. Air mata tumpah. Air itu keluar. Tanpa ku suruh. Pelan-pelan, aku mulai menebak.

“Kakak. Kak Danu...”

Aku menangis sejadi-jadinya. Entah kenapa. Otak kini tak berfungsi. Air mata itu keluar secara tiba-tiba tanpa kuinginkan.



Ya Tuhan. Itu kakak. Dia bersama Lomu.



Aku mulai menajamkan telinga. Aku tahu, bayangan itu ingin memberi tahuku sesuatu. Dia berbicara. Mukanya tampak bahagia. Sangat bahagia. Ya Tuhan. Apakah ini yang dimaksud Lomu. Ke-ikhlasan itu? Dua bayang itu. Mereka seakan membenarkan tebakanku. Aku ingin menagis. Tapi, mata ini sudah enggan. Sudah kering.



Aku tau. Aku dengar dia berkata. Kata-kata yang sama. Sama saat dia menasihati ku. Kata-kata yang selalu kuusahakan untuk ku pegang.

 “Jangan pernah sekali-kali berhenti karena takdir. Jika takdir tidak dipihakmu, cukup pelajari itu. Janan pernah berhenti. Tuhan selalu menyukai umatnya yang mau berusaha lebih baik. Berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih dari takdirnya yang dulu buruk.”

Kedua bayangan itu mulai lenyap. Lenyap...lenyap. Ditelan malam yang seakan tak mau aku terus melihat bayangan masa lalu. Mungkin ini perintah Tuhan. Supaya aku ikhlas. Bukan ikhlas yang seperti dulu. Ikhlas yang seperti dikatakan Lomu. Sekarang aku tahu. Dia sudah bersama kakak. Aku senang. Mereka bahagia. Sekali lagi. Maafkan aku Lomu. Aku akan ikhlas mulai saat ini. Meski kau tak ada disampingku lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar