Ble...ble...ble...blebleeh..... this is my second post C:
It's about me.
Haha... berasal dari sumatera tepatnya pringsewu. Ditakdirkan hidup sebagai Saffanah Nur Kharimah yang menjadi anak ke-3 dari empat bersaudara. Mereka adalah.... jreng... jreng...
Muh. Firmansyah selaku kakak tertua, Muh. L. Arif sebagai kakak menengah, SNK (nama singkatan :v) sebagai saya, Qurrota A.N. sebagai adik.
Namanya keren keren kan? haha... hebatnya yang kasih nama :v
Oke sekarang saya, sudah memasuki tahun ke-2 di sekolah menengah atas SMA Negeri 1 Gadingrejo (cek sendiri ya sekolahnya :v). Terjebak di sekumpulan anak-anak yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mau dibilang terkutuk kok miris banget, itu tandanya saya sial banget dong TT-TT
Nah sekumpulan anak itu adalah teman saya, seluruh warga kelas IPA 3. Itu kelas blusuk banget kalo mau tau... mungkin kelas paling keras di seluruh angkatan saya ini. Tapi bagai manapun juga itu sudah ditetapkan, mungkin sudah ditakdirkan bahwa ini semua harus terjadi khakhakha...
Hati-hati saja kalo masuk ke kelas itu, iman lemah sedikit bakal K.O. Kehidupan IPA 3 itu sangat keras. Kumpulan orang yang mempunya macam-macam karakkter yang bisa dibilang *tetot* lah :v
Segini dulu khakhakha... See you~
Rabu, 24 Desember 2014
Selasa, 23 Desember 2014
Tugas sekolah membuat cerpen : LOMU
Lomu
Anano
“Pipiot!” teriak seorang anak kecil yang
bagiku tak asing. Ya itu teriakan Lomu.
“Apa Mumu? Ayo cepat, nanti kita dimarah pak
RT lagi. Aku tak mau jika hal Itu terulang kembali.” Jawab ku yang sedang
bersama Lomu.
“Iya aku tau. Tapi kau kan tahu, kita sudah
berjalan lebih dari 2 jam. Tidak kah kau melihat diriku ini yang malang?” melas
Lomu.
Tiba-tiba sebutir air mata jatuh
di pipi kananku. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat oleh Lomu. Padalah ini
sudah lebih dari 8 tahun. Mengingat lomu. Itu sungguh menyakitkan bagiku.
Mungkin tak hanya aku saja, tapi seluruh warga desa.
Aku ingin melampiaskan
kesedihanku. Tapi dengan siapa? Lomu? Itu tidak mungkin. Teman masa kecil.
Tidak, dia lebih dari sekedar teman. Sahabat, mungkin tidak. Ya, dia sudah ku
anggap kakak ku sendiri. Entah mengapa, aku selalu nyaman jika bersamanya. Dia
layaknya kakak ku yang sudah lama meninggalkan ku. Untuk selamanya.
***
“Hey! Jangan
melamun. Tak bagus jika jagoan kampung ini seperti mu itu, melamun. Nanti kau
kesambet lagi” canda Lomu.
“Kasih oh aja
deh. Lagian sapa lagi yang melamun? Aku? Matamu rabun kali, mana ada di dalam
kamus Vio melamun itu.” Balas ku.
“Hey pipiot.
Jangan bilang kamu ini sedang memikirkan kak Danu?” tanya Lomu.
“Siapa? Aku?
Tidak lah. Siapa juga yang sedang memikirkan dia itu. Orang yang menyebalkan.”
Bohong diriku.
Tak terasa air mataku mulai berjatuhan.
Itu sama dengan keadan pemandangan diluar yang begitu kelabu. Tiba-tiba Lomu
memegang pundakku. Entah mengapa, aku merasa seperti ada energi mengalir di
dalam tubuhku yang mulai kaku ini.
“Piot. Aku
tahu apa yang kau rasakan. Tolong, jangan pernah sekali lagi kau menutupi rasa
sedihmu pada Kak Danu. Bagaiman sehabatmu ini bisa membantumu jika kau tak
cerita?”
Aku hanya menangis. Lebih deras
dari pada hujan yang turun.
“Kau itu punya
indra ke enam ya mu?” tanyaku.
“Hah?”
“Iya, indra ke
enam atau semacamnya?”
“Piot... Piot... walaupun kita ini di kampung. Jangan pernah
berpikiran seperti itu. Hal itulah alasan mengapa orang desa selalu dianggap
lebih rendah dari orang kota. Karena kita terlalu kolot.”
“Lantas,
bagaiman kau bisa tahu kalau aku memikirkan Kak Danu?”
“Itu mudah
saja. Sudah berapa lama kita bersama? Mungkin dari kita lahir.” Tawa Lomu.
Tiba-tiba terdengar suara.
“Hey kalian!
Dasar dua brandalan kecil yang susahnya minta ampun. Kalian sedang dicari oleh
ibu kalian tahu. Saya yang jadi sasarannya. Dasar kalian ini duo onar kampung.”
Marah pak RT.
“Maaf Pak RT,
kami tak punya jam. Jadi kami lupa waktu.” Melas ku ada pak RT.
“Kalian ini.
Tak Cuma menyusahkan, tapi juga banyak alasan. Ayo cepat pulang. Kerjaan kalian
hanya nongkrong di saung saja. Ini sudah hampir mahgrib. Kalau kalian tidak
bisa kembali bagaimana?”
“Makanya lain
kali kalau mendirikan saung itu jangan di dekat hutan. Bisa-bisa kalian masuk
ke dalam hutan dan tak kembali.” Sambung pak RT lagi.
Langit dari hari itu mulai
merubah warnya menjadi gelap. Tak seperti biasanya. Kali ini serasa ada sesuatu
yang aneh. Warna langit itu mistis.
Keesokan harinya, Lomu sudah ada
di depan rumahku. Dia terlihat lebih bersemangat dari ku yang baru saja bangun
dari tidur ku.
“Hari in kita
kemana Mu?”
“Kita ada
jadwal main. Tapi kali ini kita akan mencoba ke kampung sebelah saja. Aku bosan
jika hanya di saung saja.”
“Baik lah. Aku
bilang dulu ka ibu. Awas kalau kau pergi duluan.”
“Siap
juragan!”
Aku, Lomu, dan ditambah anak
kampungku yang lain siap menuju ke kampung sebelah. Kami menyiapkan perbekalan
terlebih dulu. Mencari bekal di dalam hutan. Itu seperti tentara-tentara
Indonesia yang gagah berani.
“Oke. Apakah
bekal kita sudah mencukupi?” Tanya Edo.
“Em... kukira
cukup. Bukankah di kampung sebelah juga ada hutan ya? Kita bisa ambil dari sana
juga kan?” usul Linda.
“Hey! Tapi
apakah aman jika mengambil dari hutan kampung sebelah?” tanya Usman.
“Kenapa tidak?
Kita meminta saja dengan baik-baik.” Jawab Lomu.
“Ya sudah.
Mari kita berangkat. Perjalanan kita tidaklah dekat.ini akan jauh. Jangan
berlama-lama disini.” Kataku.
“Oke kawan,
mari berangkat!” seru Linda.
Akhirnya, kami sampai juga di
kampung sebelah. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang karena kami
hanya bermodalkan sepedah butut ini. Bekal yang kami bawa akhirnya berguna
juga. Untuk mengganjal perut-perut desa kami ini. Tak sengaja, saat kami sedang
makan, lewatlah Ijung. Anak kampung sebelah. Lalu kami melanjutkan bermain
bersama Ijung dan kawan-kawannya.
Hari sudah sore. Kali ini kami
benar-benar sudah lupa waktu. Seharusnya
kami sudah pulang dari jam 3. Tapi kita molor satu jam. Kami bergegas, berharap
langit masih mau memberikan cahayanya kepada kita. Mengingat medan yang sulit
untuk melaju kencang harusnya kami tadi ingat waktu.
Benar saja. Kami sampai di
kampung jam setengah enam. Dan didepan gardu hansip pak RT sudah menunggu kami
layaknya hewan piaraan yang belum kembali ke kandangnya. Raut wajahnya
bercampur antara marah , khawatir dan takut. Itu membuat kami merasa bersalah.
“Maaf Pak,
kali ini kami tidak alasan seperti waktu kemarin. Kami benar-benar lupa” kata
Lomu.
“Yasudah. Yang
terpenting kalian tidak melebihi waktu mahgrib.”
“Iya Pak RT.
Sekali lagi maaf” kata Edo bersamaan dengan Usman.
Dalam perjalanan menuju rumah.
Entah mengapa suasana senja begitu memanjakan kami yang lelah akan bermain.
Terlihat raut-raut wajah bahagian di wajah anak kampung Sendayu ini.
“Oi Pi!
Kapan-kapan kita bertualang lagi oke?” pinta Linda.
“Tentu saja
Pipiot mau Nda. Dia kan pencinta alam sejati.” tandas Lomu.
Memang Lomu sering menjadi mulut
keduaku. Dia seperi tau apa yang aku fikirkan, apa yang ingin aku katakan.
Hari Senin ini terasa lebih
mendung dari hari senin biasanya. Biasanya langit begitu cerah mendukung semua
aktivtas warga kampung. Hanya aku yang merasakan hal itu. Atau memang warga
kampung tak memperdulikan hal ini. Fikiran ku tak dapat berhenti untuk terus
berfikir. ‘apa sebenarnya yang sedang terjadi. Atau, tanda firasat apa ini.
Kenapa sejak semalam fikiran ia tak tenang.’ Semua pertanyaan itu muncul secara
beruntut difikiran ku. Hatinya berdebar tak beraturan seperti dentuman besi
yang ditimpa oleh pandai besi. Keras.
“Bu, entah mengapa
perasaan ku tak enak ya Bu?”
“Memang kau
memikirkan siapa?”
“Entah, tapi
aku rasa akan terjadi sesuatu. Ya! Sesuatu terhadap...” perkataan ku terputus.
“Lomu. Lomu
bu.”
“Memang kenapa
dengan Lomu?”
“Ah Ibu. Kalau
aku tahu aku tidak akan bertanya pada Ibu. Tapi perasaan ini seperti pada
saat... saat 3 tahun lalu. Saat kak Danu.”
Ibu hanya terdiam. Butiran air
mulai turun tak beriringan dari matanya yang mulai tua. Mulai layu itu.
Teringat dengan anak yang dia sayangi, bagai pukulan keras pada besi yang telah
ringkih setelah 3 tahun sepeninggal anaknya.
“Bu, Ibu
menangis. Maafkan aku jika itu mengingatkan itu pada kak Danu. Aku tak...”
“Tidak Vio.
Ibu hanya kelilipan debu. Kan kau tahu. Di kampung sedang musim kemarau.”
Bohong ibu. Tapi aku tahu, kalau ibu sedang berbohong. Dia sedang memikirkan
orang yang mungkin paling menyayangi keluarga.
Kejadiannya 3 tahun lalu. Itu
terjadi begitu cepat. Seperti sayatan silet yang tajam.
Kak Danu sedang mencari ikan.
Sebenarnya Kak Danu tidak sendiri. Dia bersama kak Ranu, dan Kak Dio. Tapi
entah apa yang ada difikiran mereka bertiga. Seharusnya mereka tahu. Kalau
pergi memancing di saat hujan itu berbahaya. Sama saja mengundang kematian. Ah,
sungguh bodoh. Kak terus membantah ibu. Ia kekeh untuk tetap memancing. Dengan
alasan itu untuk lauk makan malam nanti. Ia pergi kesungai yang masih liar.
Sungai yang benar-benar masih belum terjamah. Kak Danu, kak Ramu, dan kak Dio
memancing agak ke pinggir. Mereka tidak memperhitungkan dahulu apa-apa yang
mungkin terjadi jika mereka berdiri di atas rumput yang licin karena hujan.
“Hoi, aku
pindah kesebelah sini ya. Di sana ikannya sedikit. Aku sulit untuk
menangkapnya. Mungkin disini banyak.” Seru kak Danu.
“Oh. Terserah
kau saja.” Jawab kak Dio.
“Heh. Kau juga
harus hati-hati disana berbahaya. Bisa-bisa kau terjatuh ke sungai yang liar
ini seperti kambingku kemarin lusa.” Canda kak Ramu.
“Jadi kau
menyamakan aku dengan kambing. Hah?” seru kak Danu.
“Haha, aku
hanya bercanda Nu. Jangan kau ambil hati.” Seru kak Ramu.
“Sudahlah. Aku
mau memancing untuk keluargaku makan malam nanti” elak kak Danu.
Hujan bertambah lebat. Dan itu
membuat permukaan rumput menjadi lebih licin dari awal mereka menginjakkan kaki
mereka di sungai liar ini. Di saat itu juga Kak Danu merasa pancingnya bergerak
sangat kencang. Ia berharap itu ikan yang besar untuk keluarganya. Ia berusaha
untuk menaklukkan ikan itu. Tapi ini sudah takdir. Permukaan rumput yang licin.
Membuatnya terjatuh ke dalam sungai yang berarus deras itu. Seketika teman kak
Danu panik. Meraka tidak bisa melakukan apa-apa selain meminta tolong. Mereka
tau. Hal yang mustahil untuk menyelamatkan Kak Danu dari amukan arus sungai
itu. Tapi mereka juga tak mau kehilangan sahabat mereka karena kecerobohan
mereka. Tanpa pikir panjang Kak Dio langsung mengejar tubuh kak Danu yang
hanyut begitu cepat di sungai itu. Kak Ramu juga tak mau kalah, bahkan dia nekat
berenang menyelamatkan kak Danu. Tapi semua orang tau. Percuma melawan arus
sungain di saat hujan deras begini. Sama saja mencari mati. Tapi hal itu tak
dihiraukan kak Ramu. Melihat kedua temannya tejebak di arus yang deras, kak Dio
hanya bisa mencoba menggapai salah dari mereka, tapi itu tak bisa. Tanah dan
rumput basah ini alasannya. Mereka seakan mengeluarkan cairan licin, sehingga
siapa yang berani menginjak mereka, pasti akan terjatuh.
Kak Dio hanya bisa memanggili nama kedua
temannya itu. Berharap ada yang mendengar suaranya dan muncul ke permukaan.
Namun itu hanya sia-sia belaka. Kak Dio putus asa, berharap, Tuhan akan
menurunkan malaikan penolong bagi mereka.
Mendengar ada yang berteriak dari arah sungai,
pak RT menghampiri. Baru sampai pada pembatas antara hutan, mata pak RT
terbelalak. Sepasang mata itu menangkap dua tubuh, satu di sungai dan satu
berteriak di darat. Ia bergegas menghampiru keduannya. Secepat mungkin ia
menyabet ranting yang cukup besar ukurannya, yang masih kokoh. Di hempaskannya
ujung ranting itu ke air, mengarah ke tubuh kak Ramu. Kak Ramu berusaha
menggapainya. Dan akhirnnya dapat. Kak Ramu naik ke permukaan dengan dibantu
kak Dio.
“Danu! Mana
Danu? Dio ma...mana Danu? Dia masih di air? Gila kamu. Cepat... cepat
selamatkan dia! Bisa mati dia! cepat” ucap kak Ramu terpotong-potong karena
menstabilkan napasnya itu.
“Apa? Danu
juga tenggelam?”
“I..i..iya
Pak” Dio seketika teringat dan mulai panik.
“Cepat tolong.
Bisa kehabisan napas dia.” Pak RT laju berlari ke arah air sungan bertuju.
“Itu dia Pak”
“Cepat! Nak Dio,
tolong pegang tubuh Bapak. Bapak akan menarik tubuh Danu.”
***
Tampak tiga orang berada di bibir
sungai sedang menggoncang-goncangkan sesosok tubuh. Yang sekiranya sudah kaku.
Bahkan, bukan hanya kaku, tapi sudah membiru. Semua orang histeris. Berteriak
tak jelas. Terlebih Ramu.
“Danu!
Bangun.... bangun... ayo bangun. Ini semua salahku. Seharusnya merekan menolongmu
duluan. Danu... ayo Danu. Kit pergi bersama kita juga harus pulang bersama.”
Teriak kak Ramu.
Sedangkan kak Dio hanya bisa
menangis membisu. Berusaha tegar. Tapi itu sia-sia. Air matanya telah bercampur
dengan air hujan. Tangannya menggenggam tangan kak Danu yang dingin. Ia
berusaha menyalurkan kehangatan tubuhnya. Berusaha itu dapat membuat mata kak Danu
kembali terbuka.
Pak RT hanya bisa terdiam dalam
derasnya hujan. Berusaha menebalkan dinding-dinding matanya. Berusaha berteriak
pada hatinya untuk menerima. Menerima kejadian ini.
Hujan yang mulai mereda. Kembali
menderaskan rintikannya itu. Seolah ikut berkabung atas kejadian di hari itu.
Pak RT, kak Ramu dan kak Dio. Wajah mereka bersimbah air hujan yang bercampur
air mata yang tak terbendung lagi. Nyawa kak Danu tak tertolong. Hal itu
membuat semua warga kampung tersentak. Anak yang dikenal begitu menyanyangi
keluarganya. Ternyata telah pergi dengan cara yang tak diduga.
Lamunanku buyar seketika ada
suara yang sangat ku kenal. Dan aku tau itu siapa. Lomu. Sahabatku. Yang ku
anggap kakak itu.
“Piot, mau
main tidak?”
“Ah. Aku
sedang tidak tertarik untuk bermain hari ini Mu. Kau saja yang bermain dengan
anak-anak kampung.”
“Oh begitu. Ya
sudah, aku pergi duu ya piot!”
Pukul 15.00.
Tubuh ini seperti telah dituntun
untuk menuju saung di dekat hutan. Tempat pembatas antara kampung dan sungai
yang dimana telah mengambil kakak kesayanganku.
Suasana mendung menyelimuti hari
ini. Entah inikah firasat buruk yang mulai melanjutkan permainannya atau bukan.
Mata ku mulai basah dengan bulir-bulir air mata. Mengingat kejadian 3 tahun
lalu. Yang rasanya seperti yang aku rasakan sekarang ini.
Kaki ini seperti telah terperogam
untuk masuk kedalam hutan yang lebat itu. Setelah masuk begitu dalam ke dalam.
Aku baru tersadar. Aku bingung. Hanya pohon besar yang mengelilingiku. Langit
pun hampir tak terlihat. Takut, sedih, dan menyesal. Bercampur di dalam hatiku.
Aku hanya bisa menangis. Menangis sekencang yang aku bisa.
Penduduk kampung geger. Mereka
mencari-cariku keseluruh kampung tapi tetap tak membuahkan hasil. Lomu yang
merasa aneh dengan ketidak adaannya aku sehingga membuat seluruh kampung panik
mulai memutar otak. Meneraka-reka dimana kira-kira aku berada. Ia hampir putus
asa. Tapi, ia teringat akan saung yang berada di pinggir hutan. Ia segera
kesana. Benar saja. Seperti yang ia duga. Aku tadi ada disana. Ia melihat
sekeliling siapa tahu ada jejak yang dapat menuntunnya ke pada ku. Yap. Ia
merasa keberuntungan menyertainya hari ini. Tapi itu tak benar. Ada bahaya yang
mengancam Lomu.
Ia menemukan jejakku hingga
didepan hutan. Ia sedikit ragu. Tapi, ia bertekat untuk menemukanku. Ia masuk
kedalam hutan tanpa membawa barang apa pun. Ia masuk cukup dalam dari biasa
yang ia lakukan dengan anak kampung. Ia memanggil-manggilku. Mendengar ada yang
memangggilku. Air mata ini mulai mengering. Mendengar nama ku, membuatku seperti
ada harapan lagi. Aku merespon panggilan Lomu padaku.
“Lomu. Lomu.
Itu kau?”
“Piot! Piot!
Ini aku. Ya ini aku Lomu!”
“Kamu dimana
Lomu? Aku takut.”
“Kamu jangan
pergi kemana-mana, biar aku yang kesana.”
“Iya. Cepat
aku takut.”
Lomu menemukan ku, tapi dia mulai
waspada karena hari mulai gelap.
Tiba-tiba, ada bunyi yang
mengerikan dari balik semak-semak. Entah itu apa. Tapi yang pasti itu membuat
aku takut. Lomu berusaha menenangkanku. Kami menyusuri hutan, entah sudah
berapa lama. Kaki-kaki ini sudah tidak kuat untuk mencari jalan. Tapi tetap
dipaksa untuk mencari-cari jalan mana yang akan membawa kami keluar dari hutan.
Hutan yang gelap, hanya dipenuhi oleh suara-suara buas, yang sewaktu-waktu
dapat muncul dihadapan. Mencari-cari langit-langit hutan yang terbuka. Tapi ini
sukar untuk dicari. Berharap dapat menemukan untuk melihat petunjuk dari kak
Danu disana yang memberikan jalan lewat langit hitam di atas. Tapi sia-sia.
Entah sudah berapa jam aku dan
Lomu berjalan menyusuri hutan sialan ini. Hutan yang membuat aku dan lomu
tersesat hingga selarut ini. Tapi untung saat Lomu masuk kehutan ia mempunyai
ide untuk menandai setiap tempat yang ia lewati. Sedikit lega. Tapi entah
mengapa aku sedikit tak tenang. Muka Lomu semakin pucat, setelah tadi di bawah
pohon besar. Aku takut Lomu kenapa-napa. Karna Lomu sudah kuanggap kakak ku.
Kakak yang melindungi ku setiap waktu.
Hari semakin larut hingga hawa
dingin mulai menyerang. Di balik hutan. Para warga sudah mengumpul sambil
membawa obor. Dan sebagian telah terjaga di hawa yang menusuk tulang ini.
“Hey! Itu
mereka sudah keluar dari hutan! Ayo cepat susul mereka!” seru salah satu warga.
“Iya ayo. Akan
ku bangunkan wrga yang lainnya” seru yang lain.
“Pak RT. Itu
dia mereka. Mari kita susul.” Seru pak Fuad.
“Oh iya pak
Fuad, kita harus bergegas menyusul mereka.” Jawap pak RT.
“Ibu.... aku takut
Bu. Disana aku tersesat. Untung ada Lomu Bu. Tapi dia...”
Perkataan ku terputus. Tiba-tiba
saja Lomu jatuh tersungkur ditanah. Badannya pucat. Tak seorangpun tau apa yang
terjadi pada Lomu, begitu juga dengan ku. Semua warga mengerubungi Lomu. Ibunya
meraung sejadi-jadinya, berharap tak terjadi apa-apa dengan anak satu-satunya
itu. Aku hanya bisa meneteskan air mata yang seharusnya sudah mengering saat
bertemu Lomu di hutan.
Pagi abu-abu. Mendung sungguh
mengganggu. Matahari tak mau menampakkan cahayanya lebih banyak. Tapi itu tak
seburuk apa yang sedang dialami oleh warga kampung ku. Bendera kuning
terpampang di depan rumah Lomu. Di sana, di mana berkumpulnya warga desa ku.
Mencoba mengikhlaskan kepergian sahabatku. Lomu.
‘dasar kalajengking sialan! Kenapa bukan aku saja? Yang tersesat kan
aku! Dasar kau bodoh. Hewan bodoh. Kenapa harus kaki Lomu yang kau gigit?
Kenapa?’ aku hanya bisa memaki diriku sendiri. Betapa beruntungnya aku, selamat
dari maut. Tapi hal itulah yang aku benci. Keberuntunganku ini membuat sahabat
baikku meninggal. Kenapa aku harus seberuntung ini? Kenapa? Kenapa juga
keberuntunganku ini memuat nyawa temannku melayang? Aku benci ini! Tuhan... tidak
cukupkah kakak ku? Kenapa harus Lomu juga.
Aku berusaha tegar. Tapi, tapi
itu mustahil. Temanku, sahabatku, bukan kakak ku. Dia tebujur kaku. Disana.
Ditikar pandan. Hanya bertemankan sebuah kain jarik dan penutup. Mukanya sudah
tak seperti dulu. Tak ada tawa khas di bibirnya yang putih pucat itu.
Ya Tuhan! Kenapa dia? Kenapa? Aku
saja! Harusnya aku, bukan dia. Itu salahku. Aku kehutan terlarang itu. Kak Danu.
Tolong aku, beritahu Tuhan. Bukan Lomu, tapi aku. Tolong bilang Kak. Tolong.
Setidaknya, jika aku yang mati. Aku bisa dengan mu kak. Aku ceroboh Kak. Dia
sudah ku anggap kakak, Kak. Dia yang menghapus sedih ku. Dia yang menjahit luka
ku saat kau pergi. Tapi aku ceroboh. Aku malah membuka jahitan itu. Dan.. dan
Lomu yang merasakan akibatnya. Aku tak berani melihat ibunya kak. Mimik itu.
Mengingatkan ketika ibu menangisi mu kak. Luka ku smakin besar kak. Semakin...
semakin... dan kini sudah sanhat besar Kak.
Kini, mata ku sudah basah.
Samar-samar kulihat bayangan Lomu tersenyum kepadaku. Seakan berkata. ‘Lupakan saja’. Bagaimana bisa? Walau
sudah bertahun-tahun. Itu mustahil Lomu. Bayangan itu terus berkata. Dan kata
yang berhasil kutangkap adalah. ‘Itu
bukan salahmu. Ini takdir. Mungkin kau merasa itu tidak adil. Tapi Tuhan tahu.
Apa yang terbaik bagi kita. Bagi manusia. Aku tidak keberatan hal itu terjadi
kepadaku. Aku ikhlas. Kau tahu kenapa? Karena itu takdirku. Hal yang sudah
direncanakan oleh Tuhan untukku.’
Degg... jantungku serasa ada yang
mengerem. Kata-kata itu. Apakah itu dari Lomu? Sungguh dia ingin mengucapkan
itu? Pada ku? Jantungku mulai memburu. Ya! Memburu. Bayangan Lomu menghilang.
Aku tak mau. Berpisah untuk kedua kalinya denganmu Lomu. Aku mencoba menagkap
bayangan itu. Kucari. Kucari ke segala penjuru.
“Mu.. Lomu..
dimana kau? Kenapa Lomu? Kenapa? Kau pergi lagi.” Aku mulai terisak. Muka ku
merah. Entah itu karena marah, sedih, atau bersalah.
“Lomu... aku
rindu kau.” Bibirku mulai mengatup.
Kulihat lagi bayangan Lomu. Tapi,
siapa laki-laki itu. Dengan badan besarnya. Rasanya aku tak asing. Rambut itu.
Mata itu. Bibir itu. Itu adalah milik orang yang paling kurindukan. Air mata
tumpah. Air itu keluar. Tanpa ku suruh. Pelan-pelan, aku mulai menebak.
“Kakak. Kak Danu...”
Aku menangis sejadi-jadinya.
Entah kenapa. Otak kini tak berfungsi. Air mata itu keluar secara tiba-tiba
tanpa kuinginkan.
Ya Tuhan. Itu kakak. Dia bersama
Lomu.
Aku mulai menajamkan telinga. Aku
tahu, bayangan itu ingin memberi tahuku sesuatu. Dia berbicara. Mukanya tampak
bahagia. Sangat bahagia. Ya Tuhan. Apakah ini yang dimaksud Lomu. Ke-ikhlasan
itu? Dua bayang itu. Mereka seakan membenarkan tebakanku. Aku ingin menagis.
Tapi, mata ini sudah enggan. Sudah kering.
Aku tau. Aku dengar dia berkata.
Kata-kata yang sama. Sama saat dia menasihati ku. Kata-kata yang selalu
kuusahakan untuk ku pegang.
“Jangan pernah sekali-kali berhenti karena
takdir. Jika takdir tidak dipihakmu, cukup pelajari itu. Janan pernah berhenti.
Tuhan selalu menyukai umatnya yang mau berusaha lebih baik. Berusaha untuk
mendapatkan hasil yang lebih dari takdirnya yang dulu buruk.”
Kedua bayangan itu mulai lenyap.
Lenyap...lenyap. Ditelan malam yang seakan tak mau aku terus melihat bayangan
masa lalu. Mungkin ini perintah Tuhan. Supaya aku ikhlas. Bukan ikhlas yang
seperti dulu. Ikhlas yang seperti dikatakan Lomu. Sekarang aku tahu. Dia sudah
bersama kakak. Aku senang. Mereka bahagia. Sekali lagi. Maafkan aku Lomu. Aku
akan ikhlas mulai saat ini. Meski kau tak ada disampingku lagi.
Langganan:
Komentar (Atom)